Tentang Blockchain Dan Sistem Ekonomi Islam (Bagian 2)
by mariska.lubis - 9 months ago

Sebelum melanjutkan bicara tentang teknologi blockchain, maka ada baiknya bila kita melihat dulu ke belakang tentang sejarah sejarah perjalanan transaksi digital keuangan yang sebenarnya sudah ada sejak lama dan digunakan di dunia ini. Sejarah yang membuat kita mengerti dan paham bahwa teknologi sangat berpengaruh terhadap perubahan ekonomi dan politik dunia. Setiap perkembangannya pun mempengaruhi budaya dan pola pikir manusia seiring dengan perjalanan waktu.


*Foto : Saat menjelaskan soal Blockchain di Rumoh Agam, salah satu rumah yang dari SOS Children Village di Banda Aceh, di mana program Blockhain bila diterapkan bisa sangat membantu anakanak yatim dan terlantar mandiri dan memiliki masa depan yang cerah. *

Bermula pada awal tahun 1900-an ketika kartu kredit pertama diluncurkan oleh hotel-hotel dan pusat perbelanjaan papan atas mengeluarkan kartu kertas kepada pelanggan kelas atas mereka. Diners Club kemudian mengklaim sebagai perusahaan pertama yang meluncurkan kartu kredit pada tahun 1949, di mana pada waktu itu, biaya yang dikenakan untuk melakukan transaksi menggunakan kartu kredit Diners adalah sebesar 7%. Pada tahun 1958, Diners Club kemudian mendapatkan saingan berat ketika Bank of America kemudian meluncurkan kartu kredit umum pertama yaitu Visa Card. Untuk selanjutnya terbentuk lagi persaingan baru dengan kemuncukan Master Card pada tahun 1966.

Kelahiran internet pada tahun 1990 membuat konsep uang digital menjadi sangat mungkin bisa dilakukan. Dulu siapa yang pernah berpikir bahwa kita bisa dengan sangat mudah melakukan transaksi keuangan seperti saat ini, seperti misalnya dengan menggunakan internet banking, ATM, kartu debit, dan lain sebagainya. Sementara pada saat ini, siapa yang tidak menggunakan transaksi keuangan dengan menggunakan teknologi internet? Rasanya hampir tidak ada kecuali di wilayah yang belum terjangkau oleh jaringan internet.

Digicash, sebenarnya adalah pelopor dari sistem pembayaran online yang kita gunakan pada saat ini. Barangkali memang belum pernah ada yang mendengarnya, tetapi Digicash ini ditemukan pada tahun 1989 oleh seorang ahli computer dan cryptographer asal Amerika bernama David Chaum. Digicash ini memperkenalkan dua system mata uang digital, yaitu eCash dan cyberbucks. Digicash ini memiliki kelemahan, terutama karena urusan melacak identitas pengguna anonym yang tidak dapat dilakukan. Bank tidak dapat melacak bagaimana misalnya para pedagang menghabiskan eCash mereka, walaupun anonimitas lengkap dapat dikompromikan karena pedagang harus mengembalikannya kembali kepada bank. Namun tetap saja digicash ini pada akhirnya gagal diadopsi baik oleh bank dan pedagang karena kurangnya dukungan yang memadai bagi setiap pengguna agar mudah melakukan transaksi.

Pada tahun 1995 kemudian diluncurkan CyberCash yang bisa dianggap salah satu keberhasilan dalam industry yang digital, dan bahkan sempat mendapatkan dukungan dari FDIC. Cybercash ini adalah perusahaan pembayaran kartu kredit yang mulai menggunakan arsitektur SET (secure electronic transaction) yang menyediakan solusi pembayaran mikro digital pada tahun 1994. Sementara SET itu sendiri adalah sebuah protocol komunikasi yang digunakan untuk mengamankan transaksi kartu kredit yang dikembangkan oleh Visa, Master Card, dan lainnya. Sayangnya, Cybercash ini memiliki kelemahan yang sangat mendasar, karena memprioritaskan keamanan dan kegunaan, di mana setiap pengguna CuberCash diminta untuk mendapatkan sertifikat yang bisa didapat setelah melalui proses yang panjang dan sulit, maka ketika terjadi bug saat Y2K, perusahaan ini pun kemudian menjadi bangkrut.

Selanjutnya pada tahun 1996, seorang ahli onkologi terkenal bernama Douglas Jackson meluncurkan mata uang digital yang disebut dengan E-gold. E-gold ini didukung oleh emas dalam bentuk real yang membuat mata uang ini sangat populer. Ada lebih dari 5 juta akun pengguna E-gold ini yang tersebar di seluruh dunia, namun kemudian berbagai serangan terus terjadi pada platform E-gold ini yang juga digunakan secara luas sebagai tempat pencucian uang.

Kemudian ada yang disebut dengan WebMoney, yaitu sebuah perusahaan berbasis di Moskow yang menyediakan berbagai solusi pembayaran antar-negara termasuk platform perdagangan berbasis internet. Perusahaan ini meluncurkan WebMoney, mata uang digital serba guna pada tahun 1998, salah satu dari beberapa mata uang digital yang masih hidup yang tidak crypto. Mata uang masih diterima secara luas dan digunakan oleh jutaan orang. Ini juga dapat dikonversi ke mata uang fiat seperti Rubel, USD, GBP dan bahkan bitcoin.

Kegagalan demi kegagalan, kesalahan dan kekurangan yang terjadi selama lebih dari 100 tahun ini, termasuk setelah adanya internetlah yang kemudian membuat Satoshi Nakamoto mengembangkan sebuah teknologi baru dengan menggunakan jaringan intranet untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi sebelumnya. Teknologi inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan blockchain technology, yang lalu meluncurkan Bitcoin sebagai uang kripto pertama pada tahun 2009. Teknologi Blockchain ini memberikan jawaban atas kepercayaan digital karena merekam informasi penting di ruang publik dan tidak mengizinkan siapa pun menghapusnya. Penggunaan teknologi blockchain ini maka setiap transaksi yang dilakukan juga sifatnya menjadi transparan, cepat, dan desentralisasi.

Banyak yang belum paham bahwa teknologi blockchain ini tidak sama dengan uang kripto, seperti halnya internet dengan email. Internet bisa digunakan untuk berbagai macam kegunaan dan dikembangkan lewat berbagai aplikasi, sementara email hanyalah salah satu bentuk aplikasi yang dikembangkan lewat email. Begitu juga dengan uang kripto, itu hanyalah salah satu produk yang bisa dihasilkan dan dikembangkan dengan menggunakan teknologi blockchain.

Baru pada tahun 2014, dunia mulai menyadari bahwa blockchain technology ini bisa digunakan lebih dari hanya sekedar untuk menghasilkan uang kripto, tetapi juga dapat digunakan untuk investasi dan melakukan berbagai skema pengembangan usaha yang lebih efisien. Blockchain adalah buku besar terbuka, terdesentralisasi yang mencatat transaksi antara dua pihak secara permanen tanpa perlu otentikasi pihak ketiga. Ini menciptakan proses yang sangat efisien. Ketika pengusaha memahami kekuatan blockchain, ada lonjakan investasi dan penemuan untuk melihat bagaimana blockchain dapat memengaruhi rantai pasokan, perawatan kesehatan, asuransi, transportasi, pemungutan suara, manajemen kontrak, dan banyak lagi. Hampir 15% dari lembaga keuangan saat ini menggunakan teknologi blockchain.Silahkan dibaca kembali Bagian 1 (https://steemit.com/threespeak-politics/@mariska.lubis/25d6d308-tentang-blockchain-dan-sistem-ekonomi-islam-bagian-1)

Teknologi blockchain yang dibuat oleh Satoshi Nakamoto ini, sebenarnya merupakan generasi pertama dari teknologi blockchain dan sudah sangat ketinggalan. Teknologi blockchain yang digunakan bitcoin tidak bisa digunakan untuk mengembangkan aplikasi atau fitur-fitur lain yang bisa sangat berguna untuk pengembangan usaha. Hingga kemudian muncul teknologi blockchain yang diluncurkan oleh Eutheruem, yang membuat siapapun bisa memiliki dompet digital lalu melakukan smart kontrak atau transaksi dengan lebih cepat, yang juga kemudian memunculkan ada banyak sekali perusahaan, lembaga, atau bahkan perorangan yang melakukan ICO. ICO adalah intial coin offering, yang sebenarnya serupa dengan IPO atau go public namun menggunakan teknologi blockchain, untuk melakukan crowd funding.

Inilah juga yang kemudian membuat orang banyak mengenal teknologi blockchain ini hanya untuk melakukan trading uang kripto di pasar uang kripto, bukan pada pengembangan dan penggunaan teknologi blockchainnya itu sendiri. Pada akhirnya, ICO yang membuat banyak koin tercipta tanpa pengembangan teknologi blockchain itu sendiri, menjadi masalah, sehingga saat ini sudah muncul lagi generasi ketiga dari teknologi blockchain ini.

ICO sendiri dapat dilakukan sebagai salah satu jalan mendapatkan modal kerja. Token yang terbuat, beredar, dan disimpan merupakan modal bagi perusahaan atau pribadi untuk menjalankan program tertentu. Setelah pada waktunya, token tersebut harus dibeli kembali oleh perusahaan/pribadi yang mengeluarkan token tersebut. Namun, karena belum ada aturan hukum yang jelas mengenai hal ini di berbagai Negara, maka bisa dibilang riskan, apalagi banyak perusahaan dan “pribadi” yang mengeluarkan token begitu saja sehingga para trader harus sangat jeli dan tidak sembarangan. Hanya perusahaan-perusahaan yang mengembangkan dan menerapkan blockchain technology ini sendirilah yang sebaiknya dipilih bila ingin melakukan trading.

Generasi ketiga teknologi blockchain seperti Steem blockchain teknologi dengan program Smart Tokennya membuat siapapun dapat mengembangkan usaha, membuat berbagai fitur dan aplikasi, maupun melakukan berbagai kegiatan lainnya di luar mining dan trading, dan tanpa harus menerbitkan koin baru. Ke depannya, teknologi blockchain ini akan berkembang lebih kepada pengembangan infrrastruktur yang akan sangat mempengaruhi perkembangan perekonomian di dunia.

Saat ini, berbagai Negara di dunia ini terus berusaha mempelajari teknologi blockchain ini dan berusaha mencari jalan melalui penerapannya secara tepat guna untuk segera menjadi solusi masalah perekonomian yang sedang dihadapi dunia saat ini. Kita bisa melihat Negara-negara besar seperti Saudi Arabia, Amerika Serikat, dan Inggris terus berusaha mengembangkan penerapan dari teknologi blockchain ini. Cyprus bahkan sudah sejak lima tahun lalu menyediakan program khusus di kampus bagi mahasiswa yang ingin mempelajari teknologi blockchain ini. Begitu juga dengan MIT, Oxford, kampus-kampus besar di dunia lainnya pun sudah mulai menyediakan pendidikan khusus tentang teknologi blockchain ini.
Mereka semua sadar betapa pentingnya menyediakan pendidikan yang benar-benar berguna untuk bisa menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif di masa mendatang, agar Negara mereka tidak tertinggal.

Inilah bukti sejarah, mengapa hendaknya kita tidak perlu pesimis dengan masa depan. Dunia ini terus berkembang dan tak ada yang bisa membendung perubahan serta perkembangan teknologi. Mereka yang takut dengan kehadiran teknologi blockchain karena bisa memaksa penerapan demokrasi, keterbukaan, dan memberikan kedaulatan penuh pada rakyat pun tak akan sanggup. Sekarang tergantung pada kita sendiri, maukah belajar dan siap menghadapi segala perubahan yang akan terjadi di depan, atau hanya akan selalu mengunggu seperti bebek pengekor yang tertinggal?

Lantas apa hubungannya dengan sistem ekonomi Islam? Tunggu kelanjutan dari tulisan ini, ya.

Semoga berguna dan bermanfaat.

Bandung, 25 Juni 2019

Mariska Lubis